Temukan Saya

Twitter : @daenggun Facebook: Darmawansyah Gunawan E-Mail : darmawangun@gmail.com

Minggu, 05 Mei 2013

"Sampah" Tukul di Televisi

By: Unknown On: Minggu, Mei 05, 2013
  • Share The Gag
  • Me-repost lagi tulisan saya waktu tahun 2008 yang lalu, ketika itu acara Tukul masih bernama Empat Mata namun kini sudah berubah menjadi Bukan Emapat  Mata setelah di tegur dan di larang tayang oleh KPI (komisi penyiaran indonesia) karena konten acaranya yang dinilai...ah su..dah..lah..


    Mendengar nama Tukul Arwana, mungkin seantero nusantara tidak ada yang tidak mengenal sosok ini, berkat acara yang dipandunya “Empat Mata” yang katanya hampir ditonton oleh setengah rakyat Indonesia. Pada setiap jam pemutaran acara, tukul seakan menjelma menjadi sang super star di tengah hiruk-pikuk jet set negeri ini yang hanya selalu menghadirkan isu perceraian, perselingkuhan, dan kisah cinta putus-nyambung. Tapi disini saya menulis tulisan ini bukan untuk membahas hal itu tapi bagaimana saya melihat Tukul dengan sangat cerdas mengolah lelucon–lelucon sampah yang di buang di suatu tong yang bernama televisi.


    Mungkin saat kita melihat tontonan tersebut (Empat Mata) kita hanya menganggap sebagai tontonan biasa yang menghadirkan beberapa bintang tamu dengan tema tertentu dan sedikit lelucon tapi tidak menjadi biasa ketika lelucon –lelucon yang ditampilkan terkesan kasar malah bisa dikatakan kurang ajar dan sangat tidak mendidik. Kata-kata yang mengandung ejekan, terkesan sarkastik yang selalu menyerang bentuk fisik seseorang seakan mengalir begitu saja, belum lagi joke-joke yang menyerempet ke hal-hal yang terkesan porno. Mungkin sudah sangat lumrah jika umpatan, cacian, dan makian terjadi di negeri kita ini mulai dari kalangan bawah sampai yang dikatakan kaum elite sekalipun sehingga semua orang yang menonton acara tersebut menganggap sebagai hal yang biasa saja.



    Dalam perkembangannya, dunia pertelevisian khususnya acara-acara talk show yang ada di Indonesia tidak banyak mengalami perkembangan yang cukup berarti, di mana sebagian besar insan pertelevisian Indonesia masih sebagai plagiator bukan sebagai pencipta ide, sebagai contoh Dorce Show yang mengadopsi habis-habisan acara talk show tersukses di Amerika Oprah Winfrey Show ataupun acara Tali Kasih yang menggunakan sisi keprihatinan untuk menggaet simpati penonton, dari sisi yang lain Empat Mata hadir dihadapan Anda. Acara yang dipandu oleh Tukul tersebut menggaet simpati penonton dengan menjual lelucon yang sudah basi dan tak berkelas untuk ditonton di mana setiap episodenya selalu saja dengan setting yang sama. Ada yang berperan sebagai yang “teraniyaya” dan juga sebagai sang “penganiaya”, tidak jarang acara tersebut menyimpang dari tema karena pelakon-pelakonnya, asyik saling mengumpat dan mencaci. Penulis berkesimpulan bahwa acara-acara (talk show) di Indonesia yang bertemakan seperti ini akan laku dibanding dengan acara-acara yang terkesan kaku, formal dan sopan.



    Untuk itu kita sedapatnya mampu memilih dan memilah tontonan yang selayaknya kita tonton, saya menulis ini bukan bermaksud karena saya anti-tukul atau memprovokasi anda atau siapapun untuk tidak menonton acara tersebut namun mungkin dapat menjadi pertimbangan apakah acara itu layak ditonton apa tidak, karena masih banyak alternatif tontonan lain yang jauh lebih berkualitas dan memberikan banyak manfaat.

    Ibu Kota Negara

    By: Unknown On: Minggu, Mei 05, 2013
  • Share The Gag
  • Hari ini ketika saya sedang asyik memperhatikan TimeLine di Twitter, saya tertarik pada salah satu Tweet (@SupirPete2) yang menanyakan bagaimana pendapat anda kalau Makassar menjadi ibu kota negara, serentak para followers akun tersebut kebanyakan menjawab Tidak!!! dengan jawaban yang streotype bahwa kalau Makassar jadi Ibu Kota, Makassar akan macet, banjir, dan semrawut. Tentu saja jawaban tersebut merujuk pada kondisi jakarta saat ini sebagai ibu kota negara, tidak ada yang salah namun saya membacanya bahwa rata-rata pemikiran orang-orang tentang Ibu kota Negara tidak jauh-jauh pada hal-hal tersebut. Ada juga melalui perspektif orang jakarta itu sendiri, ketika itu saya menonton infotainment seorang artis diberikan pertanyaaan tersebut dengan lugasnya menjawab saya tidak setuju karena jakarta akan sepi, tempat-tempat nongkrong tidak ada lagi..LOL. 


    Perlu kita ketahui mungkin di Indonesia belum jelas pembagian Zona nya, yang baru jelas adalah pembagian zona waktu nya mulai barat, tengah, dan timur. kita belum memikirkan indonesia barat untuk apa, tengah mau di jadikan apa, atau timur mau menjadi pusat apa, yang terjadi sekarang representasi Indonesia ada di wilayah barat sedangkan Timur seakan-akan hanya menjadi "penyangga". Semua kemajuan ada di barat, jadi tidak heran jakarta sebagai Ibu kota negara menjadi sangat sumpek,semrawut, dan jauh dari kesan bersahaja sebagai sebuah kota. Ini disebabkan karena tanggungan Jakarta sedemikian besar. Jakarta menjadi pusat pemerintahan negara, Jakarta jadi pusat ekonomi Indonesia, Jakarta jadi pusat kebudayaan, Jakarta jadi pusat pendidikan. Bisa di bayangkan bagaimana beratnya Jakarta. Wacana pemindahan Ibu kota negara untuk sekarang ini memang sudah sangat Urgent, Jakarta sekarang berpenduduk sekitar 10 juta orang sedangkan banyak pulau di Indonesia yang besarnya 50 kali Jakarta cuma memiliki penduduk tidak lebih dari setengah populasi Jakarta.  Jadi bisa kita bayangkan bagaimana "Nerakanya" Jakarta. Untuk mengatasi itu, salah satu caranya adalah memindahkan beban jakarta sebagai Ibu kota negara namun sebagai pusat bisnis, ekonomi, dan budaya tetap di Jakarta. Jakarta di persiapkan sebagai kota yang siap bersaing dengan kota-kota lainnya di dunia seperti Singapura, Sydney, bangkok, dan Dubai dengan status bukan ibu kota negara lagi. Untuk urusan admistratif kenegaraan cuma ada di Ibu kota negara jika seumpama jadi di Pindahkan. So Ibu kota negara hanya berisi istana negara, kementrian, pusat pertahanan, dan tempat presiden tinggal beserta jajaran pemerintahannya beserta kedutaan besar negara-negara sahabat. kalau ingin mencari "hiburan" ya ke kota lain. 

    Sebagai contoh Australia menempatkan ibu kotanya di Canberra di mana pusat pemerintahan berada namun jika ingin mencari hiburan, berinvestasi, berbisnis tempatnya adalah Sydney. Yang paling gress adalah tetangga kita Myanmar yang ternyata sukses memindahkan Ibu kota nya ke Nypydaw menggantika Yangon yang dirasa sudah mulai sesak. Pemerintah Myanmar betul-betul membangun kota baru dengan Jalanan- jalanan yang lebar. Satu-satunya bangunan besar di sana adalah Istana kepresidenan. Atau kita bisa meniru Amerika yang sangat jelas dan berhasil dalam membagi fungsi-fungsi masing-masing kota. Washington DC sebagai ibu kota negara & pusat pemerintahan, New York sebagai daerah metropolitan dan pusat bisnis, Boston sebagai pusat pendidikan (Harvard), dan Nevada sebagai pusat Hiburan (Las Vegas).

    So kalau Makassar di angkat sebagai calon ibu kota Negara sah-sah saja tapi sudah sangat riskan karena Makassar terlanjur menjadi daerah metropolitan, landskap-nya sudah mentok. Palangkaraya yang diusulkan Soekarno dulu sangat pas karena bentang alam Palangkaraya masih memberikan ruang untuk di kembangkan menjadi Ibu Kota negara, jumlah penduduk yang sedikit,tanah yang belum terpakai masih sangat luas. jadi menjawab artis di Infotainment tadi yang berkata ibu kota pindah maka jakarta akan sepi tidak akan terjadi karena Jakarta tetap dipersiapkan oleh Indonesia untuk bersaing dengan kota-kota lainnya di dunia. jadiyang pindah hanya pusat pemerintahan negara bukan Mall nya DODOL..... 


          


     

    Jumat, 03 Mei 2013

    Fakultas Sastra Sebagai Institusi dan Epicentrum Pergerakan

    By: Unknown On: Jumat, Mei 03, 2013
  • Share The Gag
  • Judulnya memang terkesan berat dan serius namun isinya saya jamin ringan karena semua atas dasar pengalaman saya hidup,tinggal, belajar,kecewa, menemukan cinta, menemukan hidup (aseekk) di Fakultas Sastra Unhas. saya pernah merasa salah memilih dan menyesali keberadaan saya di fak. Sastra bagaimana tidak saya tidak pernah terpikir ada di tempat itu dan entah kenapa di Form SPMB lalu saya menulis Sastra inggris di salah satu isian untuk jurusan yang akan dipilih, saya berpikir sekarang jangan-jangan ada dorongan gaib waktu itu...hehehehe.


    Secara sederhana pasti keinginan saya memilih Sastra khusunya Sastra Inggris adalah bagaimana meningkatkan kemampuan saya berbahasa Inggris. Cuma itu yang ada di kepala saya waktu itu, sangat sederhana sampai saya pun salah kaprah mengenai jurusan Sastra Inggris kenapa salah karena di kurikulumnya sendiri sebenarnya pihak jurusan ataupun Universitas sudah mencap kita bahwa kita sudah belajar bahasa Inggris 6 tahun di mulai dari SMP-SMA jadi masuk ke jurusan Sastra Inggris tidak berangkat dari nol dalam kemampuan berbahasa Inggrisnya,lah saya biarpun sudah belajar di SMP-SMA saya merasa bahasa Inggris saya masih NOL, namanya Sastra Inggris kita harus belajar sastra yang bahasa aslinya Inggris otomatis kita harus tahu bahasa inggris, lah saya?. Ini juga tips untuk teman-teman yang ingin masuk di jurusan Sastra inggris,jika ingin masuk ke jurusan sastra Inggris dengan tujuan untuk meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris, saya sarankan lebih baik di tempat kursus saja yang banyak bertebaran tapi jika ingin belajar bahasa Inggris dan menambah khasanah keilmuan anda sebagai manusia entah itu sejarah, sosiologi,antropologi, dan keindahan sebuah ilmu lewat bahasa Inggris saya sarankan untuk anda masuk, ini juga berlaku bagi jurusan-jurusan lain di Fakultas Sastra.
    Secara institusi fakultas Sastra Unhas bervisi sebagai pusat kebudayaan yang Unggul berlandaskan budaya Maritim sesuai dengan visi Universitas. Bahasa sebagai salah satu unsur Budaya menjadi concern utama di dalamnya. Biarpun bahasa menjadi concern  namun dalam perkembangannya saya merasakan Sastra tidak tumbuh sebagaimana mestinya, mahasiswa sekarang termasuk saya dulu lebih menitik beratkan pada tekhnis bahasa saja namun tidak lagi menyentuh Sastra-nya jadi tidak heran bagaimana Fakultas Sastra tidak lagi memproduksi sastrawan ataupun  budayawan (biarpun tujuan utamanya bukan itu) namun orang-orang yang mahir berbahasa, yang seperti saya katakan tadi jangan sampai fakultas sastra menjadi seperti lembaga kursus, yang saya yakini sampai sekarang Sastra lebih dari sekedar itu. Sastra Unhas punya sumber daya yang mumpuni untuk menjadi pabrik para cendekia, Profesor yang memiliki sifat kenabian, dan pusat kebudayaan namun dengan sendirinya tergerus oleh sistem yang terbangun sekarang.

    Sastra adalah muara dari segala keindahan, Sastra adalah ruang tanpa batas, tanpa sekat, ruang di mana imajinasi di gaungkan. ketika ruang berekspresi, ruang berbicara, sampai ruang Imaginer itu ditutup maka sama halnya mematikan Sastra itu sendiri. Tidak heran Sastra menjadi salah satu epicentrum pergerakan Mahasiswa karena ruang-ruang yang sejatinya tempat belajar mereka di batasi, di sekat, sampai di bungkam. Ketika mahasiswa meneriakkan ketidak adilan disitulah sastra, ketika mahasiswa meneriakkan kemunafikan penguasa disitulah sastra, ketika mahasiswa bernyanyi dan menari melawan tirani disitulah sastra. Bagaimana sejarah mencatat pergerakan mahasiswa pada saat transisi orde lama-orde baru semua berpusat di Sastra dengan Soe hok gie yang menjadi aktornya. Pun sekarang saya merasa sejak saya kuliah sampai saya luluspun epicentrum pergerakan mahasiswa Unhas yang Murni ada di Sastra. Sekali lagi bukan karena Mahasiswa sastra sok kritis, sok membela kepentingan rakyat namun lebih dari itu adalah ruang mereka, panggung mereka, tempat belajar mereka berusaha di batasi bahkan ditutup sama sekali. Dengan sedikit cinta dan keras kepala, kabarkan Sastra pada mereka yang tak jelas berkata. Selamat datang di rumah kebudayaan. (jangan Anarkis yah...). ini pendapat saya ini tulisan saya kalau teman tidak puas atau rada-rada tidak nyambung mohon di komen dan di maklumi..hahahay               
     

    Rabu, 01 Mei 2013

    Sistem atau Orangnya yang Salah

    By: Unknown On: Rabu, Mei 01, 2013
  • Share The Gag
  • Karena permasalahan sosial di Indonesia sudah begitu kompleks mulai dari korupsi,birokrasi nakal,kesenjangan Ekonomi dan lain-lain maka kita sering mendengar perdebatan ini yang salah sistem apa orangnya sih?. saya mencoba memberikan pendapat tentang apa yang salah Sistem atau manusianya. 

    Kita percaya semua tingkah laku,gerak-pola interaksi Manusia dalam suatu tempat diatur dalam sebuah sistem, entah sistem yang dibuat sendiri oleh manusia itu sendiri atau sistem yang dibuat oleh Tuhan (agama). Berbicara persoalan Indonesia kekinian, sangat jelas bahwa ada sistem yang salah. Maraknya korupsi sebenarnya memperjelas borok sistem di Indonesia, mulai dari pengusaha,politisi, sampai menteri sekalipun wara-wiri di televisi karena terjerat kasus korupsi. Sampai-sampai yang disebut Ustad dan lembaga yang mengurusi agamapun tak ketinggalan terjerat. lantas saya berpikir apakah serusak itu moral-moral manusia Indonesia sampai pemuka agamanya pun ikut. Apakah memang betul-betul manusianya?. Sebenarnya tidak seratus persen benar jika manusianya yang salah sekali lagi pola gerak,tingkah manusia di atur dalam sebuah sistem dan sitem itulah yang membuat kasus korupsi di Indonesia marak. Sistem itu yang membuat bagaimana korupsi bisa dengan mudahnya dilakukan. Sistem yang membuat orang yang tidak berniat korupsi tiba-tiba korupsi karna sistem memberi celah. Kita berlomba-lomba berteriak lantang Indonesia harus bebas korupsi, law enforcement (penegakan hukum) yang konsisten namun disisi lain sistem kita mendukung korupsi itu bisa terjadi. 

    UU Otonomi Daerah dalam satu pasalnya memberikan ruang seluas-luasnya bagi pemerintah daerah mengatur sendiri daerahnya tujuannya baik namun sekarang Otoda menciptakan raja-raja kecil di indonesia yang sangat susah tersentuh karena kewenagan yang luar biasa. Sistem birokrasi multi pintu (hehe istilah saya sendiri) padahal sebenarnya biasa disederhanakan dengan satu pintu saja. Hal ini membuat banyak celah dan celah itu yang termanfaatkan sekarang untuk diselewengkan. Sistem pemilihan kepala daerah secara langsung yang tujuannya agar rakyat lebih dekat dan tahu detail calon pemimpinnya (di luar alasan kita sebagai negara Demokrasi) jadi sumber masalah baru. Bagaimana sistem ini mempertontonkan kapitalisasi manusia luar biasa, mengakibatkan muncul istilah high cost Democracy bagaimana modal (uang) bermain di dalamnya. yang namanya modal harus berkembang harus berlipat entah sumbernya nanti dari mana. mungkin masih banyak contoh bagaimana kita membangun sistem yang mendukung sendiri agar kita korupsi.

    Saya yakin di Eropa dan Amerika ataupun China yang termasuk rendah tingkat korupsinya bukan manusianya baik-baik, ahlaknya bagus, bermoral sampai tidak korupsi namun sistem yang di bangun di sana tidak ada celah sama sekali untuk kita bisa korupsi,kewenagan orang per orang sangat di batasi. sekali lagi Sistem yang kurang lebih mempengaruhi apakah mau baik atau buruk jalannya sebuah negara,kumunitas, ataupun pemerintahan.Kita bisa  melihat Singapura sebagai contoh. Negara paling bersih di Dunia karena pemerintahnya betul-betul menegakkan hukum tidak mencla-mencle bagi siapapun yang buang sampah sembarangan. Orang yang membuang sampah akan dikenakan denda 300 dollar Singapura kira-kira setara dengan 2 juta  rupiah dan ini dilaksanakan betul-betul oleh pemerintahnya. Akibatnya orang-orang indonesia yang banyak berlibur ke Singapura tiba-tiba menjadi sangat tertib. tidak membuang sampah sembarangan ataupun merokok di tempat umum. tapi seketika pulang kembali ke Indonesia kembali lagi kebiasaan membuang sampah sembarangan dilakukan. Sama halnya ketika orang-orang Singapura berlibur ke Batam,Kepulauan Riau. Dengan seenaknya membuang sampah sembarangan. Hal ini menunjukkan bagaimana sistem bisa memaksa kita menjadi "baik" dan bagaimana sistem bisa memaksa kita menjadi "jahat"  

    Sekampung-kampungnya orang, seudik-udiknya orang yang baru masuk ke Mall tidak akan meludah di dalam Mall saking bersihnya, karena kebersihan itu memaksanya untuk tidak meludah ditempat tersebut. Namun kalau kita ke pasar tradisional mana becek nggak ada ojek (ups.hehhe),kumuh. Sekota-kotanya kita semaju-majunya kita, di sana mungkin kita tidak lagi meludah tapi sudah muntah saking kotornya. Karena kotor itulah memaksa kita untuk meludah dan muntah. Mungkin hal diatas bisa menjelaskan keadaan sistem di Indonesia jadi saya berkesimpulan tetap bahwa Sitem yang salah bukan orangnya. karena Manusia tempatnya salah...heheheh..apa kah??? 



         

    Senin, 29 April 2013

    Makassar Menuju Kota Dunia Yang Salah Kaprah

    By: Unknown On: Senin, April 29, 2013
  • Share The Gag
  • Saya bukan asli Makassar namun saya memperhatikan kota ini dengan cukup seksama. Selama hampir 8 tahun saya hidup, menetap, berinteraksi di kota ini ada perasaan senang,bangga, resah,dan kadang dongkol bagaimana kota ini sejatinya masih mencari jatidiri. Tidak bisa dipungkiri Makassar bukan saja milik warga Makassar itu sendiri namun sudah menjadi kebanggaan masyarakat Sulawesi-Selatan. Ada perasaan senang bahwa Makassar kini sudah menjelma sebagai salah satu kota besar di Indonesia di luar Jawa selain Medan, dalam indeks pembangunan manusianya Makassar menjadi yang pertama di KTI (kawasan timur Indonesia) dan menjadi yang ke-7 secara nasional tidak heran bagaimana Makassar disebut-sebut sebagai Epicentrum indonesia kini yang mencoba bangkit dari timur (ketika Jawa dan Sumatra sudah begitu sesak), menjadi gerbang Indonesia timur, dan segala kemajuan yang telah diraih.

    Saya selalu percaya bahwa setiap kota di bangun dengan sebuah konsep yang mampu memanusiakan manusia. Bagaimana konsep itu harus sejalan dengan pola gerak dan interaksi manusia. Faktor Psikologis dan Sosiologis harus selalu menjadi pertimbangan, dan tentunya konsep aman dan nyaman bagaimana kota harus ramah kepada siapapun yang ada di dalamnya. Mungkin terdengar klise karena permasalahan ini hampir menjadi permasalahan disemua kota di Indonesia pun Jakarta yang berlabel ibu kota negara, namun untuk Makassar mungkin masih punya waktu untuk memikirkannya dari sekarang.

    Untuk itu pemerintah kota Makassar mencetuskan visi bahwa Makassar akan menjadi kota Dunia. kota Dunia? menjadi pertanyaan dibenak saya atau mungkin teman-teman, Makassar menjadi kota dunia dengan apa dan bagaimana?. Dan kita bisa lihat sekarang perkembangan Makassar dalam rangka menuju Kota Dunia, bangunan tinggi dimana-mana, membangun jalan layang, hotel-hotel berbintang, pusat-pusat niaga yang menjamur, jalan di perlebar sampai 4 ruas,reklamasi pantai di mana-mana, saking pesatnya pembangunan di Makassar sampai ada anekdot bahwa sehari saja meninggalkan Makassar dan kembali keesokan harinya akan ada lagi bangunan baru yang menjulang.

    Tapi benarkah Kota dunia seperti itu dengan mengorbankan kenyamanan Manusianya? anomali yang terjadi dari itu semua adalah kesemrawutan menandakan bahwa adanya konsep salah kaprah mengenai kota Dunia. Untuk apa pembangunan pesat jika manusia tidak diikut sertakan dalam artian dibuat nyaman, dibuat mereka menjadi manusia. Pembangunan ruas jalan baru dan pelebaran jalan bukan solusi mengurai kemacetan malah memberi ruang baru, tidak ada hak untuk pejalan kaki karena konsepnya masih menggunakan jalan sebagai tempat mesin-mesin (mobil,motor) bukan untuk manusia. reklamasi pantai yang saya tahu tujuannya baik tapi apakah sudah di pikirkin ketahanannya dalam kemampuan menghadapi perubahan iklim. Kota jauh dari kata bersih dengan sampah di mana-mana. 

    Belum lagi persoalan Manusianya, klise kita mendengar Makassar bisa Macet karena Mahasiswanya doyan demo, tidak tanggung-tanggung demonya bisa di lima titik di dalam kota. Belum lagi media nasional yang berfungsi sebagai humas  yang sangat efektif memperkenalkan makassar sebagai kota yang rawan tawuran dan aksi kriminal. Apakah memang konsep kota dunia seperti itu dengan membangun sebanyak-banyaknya dan setinggi-tingginya tanpa memperhatikan manusianya. Jika melirik kota-kota dunia tidak usah jauh-jauh Singapura mampu menerapkan konsep kota Dunia yang bersahaja tanpa mengabaikan manusianya.

    Mapala dan Kelatahan yang Mengikuti

    By: Unknown On: Senin, April 29, 2013
  • Share The Gag


  • Dalam perjalanannya dunia petualangan di Indonesia maju dan berkembang pesat. Ditunjukkan makin banyaknya prestasi anak bangsa dalam dunia kepetualangan saat ini, kalau megukurnya dari sisi kepetualangan itu sendiri bagaimana misalnya dimulai pada era Norman Edwin (Mapala UI) yang tewas di Argentina dalam misinya menaklukkan 7 puncak tertinggi dunia, ada Korps pasukan khusus (kopasus) bersama Wanadri yang melirik juga dan mampu menaklukkan Mount Everest, yang terakhir teman-teman dari mahasiswa Universitas Parahyangan Bandung yang mampu menyelesaikan 7 Puncak teringgi dunia. Perkembangan lain yang sangat nyata adalah maraknya acara-acara di TV nasional yang mengangkat tentang perjalanan dan petualangan, hal ini menunjukkan bahwa dunia kepetualngan atau dunia kepencinta alaman punya tempat tersendiri. Yang sangat nyata tentu tumbuh suburnya kelompok-kelompok yang bergenre kepetualangan mulai dari kampus (Mapala) sampai komunitas di masyarakat (KPA).

    Saya cukup lama berkecimpung dalam dunia kepencinta alaman terutama selama saya di kampus dulu. Mempelajari persolan sejarah, interaksi, dan bagaimana sebuah kegiatan kepetulangan itu disusun dan di rencanakan. Ada yang unik sebenarnya jikalau kita jeli melihat bahwa teman-teman dalam komunitas ini sebenarnya punya anekdot,tingkah laku, dan cara bersosialisasi yang eksklusif yang tanpa di sadari di bentuk sendiri oleh mereka. Namun bukan itu yang saya akan bahas tapi persolan Kesejarahan Mapala (Mahasiswa Pecinta Alam), karena saya berasal dari Mahasiswa pecinta alam sewaktu kuliah dulu jadi itu yang menurut saya lebih dekat untuk saya ceritakan. Kita tahu semuanya atau ada teman-teman yang belum tahu bahwa kata Mapala pertama kali dicetuskan pada kurun waktu 1964-1965 oleh mahasiswa-mahasiswa Universitas Indonesia Untuk menamakan kelompok mereka yang gemar naik gunung. Pada saat itu memang sudah dikenal istilah pecinta alam namun untuk istilah Mapala baru mahasiswa UI yang menggunakannya yang di ambil dari singkatan Mahasiswa pecinta alam dan ada juga menyebutkan bahwa istilah itu diambil dari nama buah yang disebut Gajah Mada dalam sumpahnya untuk menyatukan nusantara. 

    Jadi kalau mendengar nama Mapala maka kita akan merujuk ke satu titik yaitu Mapala UI bukan yang lain biarpun kita tidak menambahkan Kata UI di belakangnya maka tetap kata Mapala itu akan merujuk ke UI bukan yang lain. Pembelokan makna itu yang terjadi sekarang kata Mapala menjadi jamak dan latah digunakan oleh kalangan kampus dalam menamakan kelompok pecinta alam mereka. Tidak ada yang salah dari situ karena si empunya nama juga tidak keberatan akan persoalan itu namun pengetahuan tentang sejarah penamaan coba saya share supaya kita sama-sama belajar. 

    Untung saja teman-teman UI tidak meng-Hak Patenkan nama itu karena jika iya siapaun organisasi yang akan memakainya harus terlebih dahulu mengurus admistrasi dan membayar royalti atas penggunaanya dalam hal ini di atur dalam UU Hak Kekayaan Inteletual. Jadi penggunaan terminologi Mapala bukan merujuk pada Mahasiswa yang bergelut di dunia pecinta alam tapi Mapala merujuk pada satu Institusi yaitu UI jadi jika menyebut Mapala yang ada dipikiran kita cuma UI bukan yang lain. Salam Lestari....