Temukan Saya

Twitter : @daenggun Facebook: Darmawansyah Gunawan E-Mail : darmawangun@gmail.com

Minggu, 27 Oktober 2013

Kenapa Harus Sepakbola?

By: Unknown On: Minggu, Oktober 27, 2013
  • Share The Gag
  • Blog ini bukan blog khusus sepak bola namun karena saya sangat cinta permainan ini maka beberapa tulisan-tulisan saya terdahulu membahas sedikit tentang sepakbola termasuk kali ini. 'Kenapa harus sepak bola?', judul ini saya angkat karena membaca dari banyaknya statemen ataupun tanggapan insan olahraga nasional di luar sepak bola yang merasa kecewa atau malahan iri melihat bagaimana sepakbola kita mendapat perhatian dan porsi lebih banyak baik dari sisi pemberitaan maupun perhatian pemerintah dan masyarakat, meskipun olahraga ini tak kunjung berprestasi. Ada anekdot yang berkembang di Indonesia bahwa kalau berpikir olahraga ya Bulutangkis,kalau mau mendunia ya Bulutangkis,kalau mau menjadi maestro ya Bulutangkis, wajarlah pendapat ini mengemuka karena sudah terbukti bagaimana Bulutangkis berkali-kali mengharumkan nama bangsa, dari kejuaran regional sampai olimpide sekalipun.

    Permasalahan Bulutangkis kita skip dulu, kita kembali "kenapa harus Sepak Bola'? pemikiran sederhananya adalah Sepak Bola adalah olah raga paling populer di Dunia termasuk di Indonesia jadi masuk akal kalau mendapat porsi pemberitaan dan perhatian lebih dari masyarakat. dari sisi Ekonomi, Sepak Bola menjadi tempat "makan" ratusan bahkan jutaan orang. Sepak Bola adalah olahraga yang mempunyai kompetisi panjang yang digelar setiap tahunnya. di Eropa rata-rata satu musim kompetisi berjalan 9 bulan bahkan di Indonesia pernah hampir menggelar satu musim kompetisi selama setahun penuh karena persolan politik (Pilkada) di daerah. Dalam 9 bulan kompetisi itu berapa banyak sektor ekonomi bisa berjalan, berapa banyak orang bisa "makan" dari situ. saya ambil contoh di Indonesia, Liga Super Indonesia di ikuti oleh 18 tim/klub dengan sistem tandang dan kandang, setiap tim memiliki jatah menggelar laga kandangnya sebanyak 8-9 kali dalam semusim. Pertandingan di gelar setiap pekan dengan kapasitas stadion yang bisa menampung puluhan ribu orang (rata-rata stadion-stadion di Indonesia berkapasitas 20-30 ribu tempat duduk), di sinilah sepakbola membuat "pasar"nya sendiri, bagaimana tukang parkir sumringah setiap pekannya,belum lagi pedagang minuman-makanan, pedagang merchandise klub2 peserta, orang-orang yang diluar sepak bola pun bisa mendapat keuntungan dari situ dan ini berlangsung setiap tahun bisa di bayangkan bagaiman siklus ekonomi dibuat oleh olahraga ini. 

    Itu baru di Indonesia yang Sepak bolanya bisa dikatakan belum meng-Industri (sedang menuju kesana), di Eropa jangan ditanya, Industri sepakbola terbesar ada di sana bagaimana uang Triliunan bisa dengan mudah diucapkan dan digelontorkan. untuk urusan ekonomi di Sepakbola Eropa tidak perlu saya jelaskan panjang lebar, yang menarik di Eropa adalah orang-orang di "balik layar" dari industri tersebut, saya membaca beberapa artikel sepakbola dan bisnis bagaimana para Konglomerat, Taipan, Investor kelas Kakap Dunia tiba-tiba terjun dan "mengepung" Sepak bola Eropa, why? apakah usaha mereka mandek dan terancam bangkrut hingga beralih ke Industri sepak bola?, apakah industri sepakbola begitu menguntungkan? dan jawabannya cukup mencengngangkan, ternyata bukan tentang raupan keuntungan besar tapi persoalan keterkenalan dan selebritas. adakah dari teman-teman yang mengenal Roman Abramovic, pengusaha yang hartanya tak akan habis sampai sepuluh turunan ini sebelum mengakuisisi Chelsea 2003 silam?, . Adakah yang mengenal Tony Fernandes pemilik Air Asia ini di Eropa sebelum membeli Queen Park Rangers?, dan yang paling anyar si Erik Tohir pengusaha muda Indonesia yg membeli saham mayoritas Inter Milan yang tiba-tiba menjadi bahan pemberitaan di Eropa.

    "Kenapa harus Sepak Bola?" mungkin sudah sedikit di jawab oleh para konglomerat kakap itu, di balik keuntungan dan selebritas yang dapat di raup dan di genggam ada misi lain mereka yang secara tersirat bagaimana nama negara mereka terangkat hanya karena  olahraga ini (sepak bola). Roman Abramovic seperti menjadi duta Rusia di Eropa, Tony Fernandes yang membuat Malaysia makin Truly Asia, bagaimana Jakarta jadi bahan perbincangan di Italia, ibu kota negara asal Erik Tohir. jika kembali kita bertanya kenapa sepak bola? dan pasti akan ada yang nyeletuk "olah raga lain juga bisa begitu kok". ok celetukan itu coba saya sanggah  dengan membandingkan Sepak Bola dengan olahraga lain terutam olahraga secara Tradisional yang sudah mengakar di beberapa negara.

    Contoh di Indonesia misalnya, berbicara Indonesia kita akan membahas lagi tentang Bulutangkis, kita punya banyak juara Dunia di olahraga ini, mengharumkan nama bangsa di dunia internasional tapi benarkah memang seperti itu adanya?. adakah yang mengenal Rudi Hartono, lilyana Natsir, Tontowi Ahmad, Taufik Hidayat  di luar orang-orang yang terlibat atau pecinta olahraga ini (Bulutangkis)?, adakah yang tau bahwa India dan Pakistan beberapa kali juara Dunia Kriket? (olahraga yang secara tradisonal dikuasai oleh negara tersebut), adakah Australia menjadi headline pemberitaan seantero dunia ketika juara Dunia Rugby?, adakah memang Basket yang menjadikan Amerika seterkenal sekarang?, adakah Rusia di kenal akibat ratu-ratu cantik Tenis mereka?, dan jawabannya tidak,tidak, eh iya iya bisa jadi bisa jadi....

    "Kenapa harus Sepak Bola?" adakah yang tidak mengenal Cristiano Ronaldo, adakah yang tidak mengenal Lionel Messi saat ini?? saya yakin dan pastikan orang yang tak pernah menonton ataupun tidak suka dengan olah raga ini akan menjawab "iya saya tau, mereka pemain bola itukan". Siapa yang tidak kenal Bambang Pamungkas di Indonesia, cewek-cewek yang taunya cuma bedakan dan Siwon Suju kalau ditanya tentang atlet favoritnya di Indonesia  pasti dengan lantang menyebut Bambang Pamungkas.

    Siapa yang pernah mendengar nama Kroasia (negara yang baru merdeka kurang lebih 5 tahun ketika itu) sebelum Davor Suker dkk   menjadi juara ketiga Piala Dunia 1998 ,ada yang pernah mendengar Ivory Coast atau Pantai gading sebelum Drogba dkk menginvasi sepakbola Eropa dan lolos Piala Dunia 2006,  ada yang mengenal Trinidad & Tobago negara asal Dwight Yorke ini sebelum mereka juga lolos Piala Dunia, sampai ada yang nyeletuk lagi, ini Trinidad & Tobago sebelah mananya Bojong Soang sih?? LOL

    Begitu dahsyatnya olahraga ini sampai Der Kaizer Frans Beckenbauer (legenda sepak bola Jerman) mengatakan jika ingin melihat kemajuan sebuah negara lihat Sepak Bolanya, pernyataan yang begitu subjektif  tapi ada benarnya mengingat sepakbola memiliki tingkat kompleksitas yang begitu tinggi. Piala Dunia sepak bola yang digelar setiap 4 tahun sekali di tonton hampir setengah populasi dunia, yang mengalahkannya hanya Olimpiade, adakah olah raga yang bisa melakukan ini  selain Sepak Bola?(sory dari tadi nanya mulu hahaha). jadi mungkin sudah terjawab "kenapa harus sepak bola?", dalam konteks Indonesia biarpun tak kunjung berprestasi tapi sepak bola nasional berhak untuk di perjuangkan,karena efek yang diberikan begitu luar biasa, olahraga ini mampu menjadi "Humas" yang sangat efektif. mudah-mudahan kedepannya Indonesia tidak lagi dengan Bali, negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia, dan Bulutangkis namun Indonesia dengan keindahan sepak bolanya.


    Sabtu, 29 Juni 2013

    You are The Apple of My Eye

    By: Unknown On: Sabtu, Juni 29, 2013
  • Share The Gag

  • Bukan mau sok-sok menulis resensi tentang film tapi entah kenapa setelah saya menonton "You are The Apple of My Eye" mendorong saya untuk melakukannya. Film ini saya tonton hampir seminggu lalu namun sampai sekarang saya masih terngiang-ngiang akan setiap adegan dan Quotes yang ada di dalam film tersebut, mungkin karena ceritanya yang RUAAAR BIAASAA bagusnya atau bisa jadi karena si Shen Chia-yi (Michelle Chen) pemeran utama wanitanya yang manisnya keterlaluan (gula mah lewat). Mungkin ada yang bilang saya berlebihan sampai saya pun menulis kata 'luar biasa' seperti yang ada  diatas, namun saya bisa jamin 100 % uang kembali *eh, untuk teman-teman film ini masuk dalam kategori WAJIB TONTON. Beberapa kali saya menonton fil-film Asia dengan tentu saja korea dan India sebagai perwakilannya, saya bisa katakan ini yang paling rekomended dan sekali lagi WAJIB TONTON. Dan yang jelas setelah menonton film ini perasaan kita akan bingung menentukan sikapnya antara kita ingin senang, sedih, tertawa atau malah kita dibuat bingung.

    Film ini adalah film Taiwan yang dibuat tahun 2011 (dan saya baru menontonya di 2013) yang disutradarai oleh Giddens Ko, berdurasi 110 menit. Kisah film ini dimulai dengan 2 pria yang menyuruh temannya untuk segera berangkat ke pernikahan. Kemudian penonton dibawa flashback ke masa remaja sang tokoh utama, Ko Ching-Teng (diperankan oleh Ko Cheng-Tung) atau panggilannya Ko-Teng. Ko Ching-Teng saat itu adalah pelajar SMA di suatu SMA di Taiwan dan bersahabat dengan Hsu Bo-Chun, si tukang ******* (sory saya sensor karena???), A-Ho, Lao-Tsao, Liao Ying-Hung alias Liao Gai-Bi. Ko-Teng dan teman-temannya merupakan murid bengal dan jahil sehingga nilai-nilainya tidak ada yang beres. Semua sahabat Ko-Teng menyukai dan berusaha mengejar murid terpintar di kelas, yaitu Shen Chia-Yi (Michelle Chen). Ko-Teng sendiri tidak terlalu tertarik pada Shen Chia-Yi. Hingga pada akhirnya, kenakalan Ko-Teng dan teman-temannya membuat Ko-Teng “berkenalan” dengan Shen Chia-Yi walau mulanya sikap di antara mereka saling judes.

    Hingga pada suatu hari, Ko-Teng, entah mengapa, menolong Shen Chia-Yi di saat dia memiliki kesempatan untuk menjahilinya. Shen Chia-Yi yang tidak paham mengapa Ko-Teng menolongnya, berusaha untuk berterima kasih dengan mengajarkannya pelajaran agar nilainya membaik. Dari sini lah, hubungan antara Ko Ching-Teng dan Shen Chia-Yi mulai tumbuh, kalau anak-anak sekarang bilangnya Unyu-unyu. Dari sini banyak konflik yang terjadi di antara mereka, juga melibatkan teman-teman mereka, hingga pada akhirnya penonton dibawa kembali pada acara pernikahan yang disebutkan di awal. Bagaimana ujung dari usaha teman-teman Ko Ching-Teng mengejar Shen Chia-Yi? Atau malah ada apa-apa antara Ko Ching-Teng dan Shen Chia-Yi? Jawabannya lihat saja filmnya yo. 

    Cerita yang ditawarkan 'You are The Apple of My Eye' sebenarnya sederhana, ringan, dan mirip dengan kehidupan sehari-hari. Mungkin hal ini terjadi karena film ini di adaptasi dari novel dengan judul yang sama yang ditulis oleh Giddens ko sang sutradara yang konon adalah kisah hidupnya sendiri ck..ck..ck. Benar-benar ringan, romantis, menghanyutkan bin maknyus. Tambahan sedikit film ini mungkin harus ditonton oleh yang sudah dewasa minimal 18 tahun ke atas karna banyaknya adegan-adegan 'konyol' yang layak sensor. Film ini benar-benar menguras energi jiwa dan raga meskipun yang saya bilang tadi bahwa ceritanya sederhana namun plotnya bagai roller coaster pasar malam. Tiba-tiba naik,tiba-tiba turun, tiba-tiba belok, tiba-tiba bergelombang. Dan yang paling penting film ini benar-benar menguras.....

    Dari film ini saya mengenal Shen Chia-yi (Michelle Chen)yang dari awal film mungkin terlihat biasa namun lama-kelamaan semakin kita masuk ke dalam  filmya semakin keterlalaluan dan kurang ajarlah pesona dari kecantikannya. Sebelum saya mengakhiri resensi amatiran ini, saya mengambil beberapa Quote dari film ini yang menurut saya menarik;

    Ini quote dari Shen Chia-Yi sesaat setelah dia memberikan tugas pada Ko Ching-Teng namun Ko-Teng mengejeknya bahwa Shen Chia-Yi meremehkannya.

     "yang aku pandang rendah bukan orang yang nilainya jelek. yang aku pandang rendah adalah orang yang sendirinya tidak mau belajar giat tetapi memandang rendah orang yang belajar giat"

    Ini quote ketika Ko Ching-Teng menerima nilai ujian yang bagus dan bergaya sok terhadap Shen Chia-Yi.

    "sebetulnya, apalah hebatnya mengerjakan ini. aku berani bertaruh 10 tahun lagi, walaupun aku tidak tahu apa itu 'log',hidupku akan baik-baik saja." 

    masih banyak Quote menarik lainnya, karena Adzan subuh sudah bekumandang jadi tulisan ini cukup sampai disini. wassalam

    Kamis, 27 Juni 2013

    Java Overland

    By: Unknown On: Kamis, Juni 27, 2013
  • Share The Gag
  • SOLO menjadi tempat yang membuat saya rindu untuk kembali (sory kalau agak lebay ), kota dimana kembali terangkat setelah walikotanya menjadi fenomena, kota yang membuat saya kagum tentang arti kebersahajaan. ini sekelumit cerita singkat yang saya bawa dari sebuah perjalanan singkat yang saya lakukan beberapa minggu yang lalu. sebuah cerita tentang kekaguman dan kebersahajaan (mempertegas). biarpun saya merasa sudah sering mengunjungi tempat-tempat yang baru, jujur saja saya masih sering mengeneralisasi bahwa selama masih di Indonesia semua pasti sama. jelas selama perjalanan dari ujung timur Jawa ke Ujung baratnya, yang ada dipikiran saya bahwa Makassar still the best city in Indonesia (sok2 British) seperti warga New York yang bangga menyebut dirinya New Yorker, seperti warga barcelona yang enggan di sebut spaniard Ck..Ck..Ck... dan otak saya selalu memaksa untuk mencari kesamaan dan perbedaan, kekurangan dan kelebihan Makassar dengan kota-kota yang saya singgahi selama perjalanan. 

    dan hasilnya adalah (disambut dengan musik 20 century fox dalam setiap opening filmnya)saya tidak menemukan kelebihan Makassar sebagai sebuah kota selain kelebihan pete-petenya (angkot) dalam arti sebenarnya..hehehe. Dari sisi kepadatan bangunan dan kontur kota mungkin sama dengan Makassar namun Solo sebagai sebuah kota mampu dibuat teratur dan tertata. Dari sisi mentalitas warganya saya rasa sangat timpang, disana saya merasa diajarkan bagaimana orang kota tinggal disebuah kota, dibanding di Makassar yang mengaku orang kota namun masih bermental kampung. Bukan bermaksud menjelekkan namun itu yang saya rasakan. 

    Sebagai contoh selama saya disana jarang sekali saya mendengar suara klakson kendaraaan entah itu motor ataupun mobil meski lalu lintas sedang ramai-ramainya,di Makassar jangan ditanya, di lampu merah yang jelas-jelas kita harus berhenti masih saja ada orang ciprik yang memainkan klaksonnya. Belum lagi ditengah-tengah kemacetan parah yang jelas-jelas maju kena mundur kena, kelakson seperti parade fufuzela alat musik afrika selatan yang terkenal akan kebisingannya selama piala dunia 2010 lalu. Saya pernah membaca kutipan seorang pengamat kota yang saya lupa namanya mengatakan seperti ini "kota yang peradaban dan kebudayaannya tinggi memiliki intensitas bunyi klakson kendaraannya yang rendah"  
    contoh lain yang membuat saya kagum, zebra cross yang di Makassar  hanya berfungsi sebagai mural..heheh menjadi tempat yang benar-benar aman untuk kita menyebrang, setiap kali ada warga yang akan menyebrang, serentak kendaraan seakan ada yang mengkomando untuk berhenti dan mempersilahkan orang-orang untuk menyebrang dan lagi-lagi tidak ada suara klakson. Dan yang lebih penting saya kira adalah warganya seakan-akan menjadi "humas" yang baik untuk kotanya yang jika saya menangkap, di jidat-jidat mereka tertulis selamat datang di kota kami mudah-mudahan anda merasa nyaman berada dikota kami selamat datang kembali, sesuatu yang mereka tidak katakan namun dari gerak pola tingkah laku mereka mengatakan itu kepada saya, itu lah yang mungkin disebut kebersahajaan. 

    mereka menunjukkan kepada saya bahwa seperti inilah sebenarnya kita bersikap sebagai warga kota, tidak perlu terlihat modern namun menunjukkan sebuah peradaban
    dalam tulisan saya ini banyak mengangkat interaksi di jalan raya karena menurut saya disitulah kita menemukan sebuah identitas dan entitas sebuah kota, menemukan wajah lugu dan tak berdosa dari sebuah kota. jika ingin melihat watak warganya lihatlah interaksi orang-orangnya di jalan raya. Makassar saya merasa akan seperti itu juga namun tidak sekarang, maklumlah karena kita yang ditimur baru merdeka kurang lebih 15 tahun sedangkan mereka merdeka sudah 68 tahun...heheheh. jadi peradaban kita tertinggal 50 tahun dengan mereka. hal-hal inilah yang membuat saya selalu ingin mengunjungi tempat-tempat yang baru,tidak sekarang mungkin nanti ketika konsep Indonesia tidak lagi ada di benak kita masing-masing, ketika konsep indonesia bisa kita tuliskan diatas kertas baik dari teman-teman yang di timur maupun yang dibarat dengan tarikan pinsil dan goresan pena yang sama..tsaaah, dan yang terakhir dan yang paling penting adalah kalau ada modal kodong,mungkin ada yang mau mensponsori..hehehhe.wassalam 

    Sabtu, 18 Mei 2013

    Hanya Di indonesia ( Indonesia Super League)

    By: Unknown On: Sabtu, Mei 18, 2013
  • Share The Gag
  • Membicarakan sepak bola tanah air belakangan ini sungguh tidak ada habisnya, mulai dari federasi yang bermasalah, liga yang terbelah menjadi dua dan tim nasional yang tak kunjung berprestasi. Syukurlah seiring dengan waktu, konflik itu sudah mulai reda hasil dari kongres luar biasa lalu, dengan stabilnya federasi (PSSI) sampai liga yang akan menjadi satu dengan Indonesia Super Liga masih menjadi tajuknya. Ngomong-ngomong tentang Indonesia Super Liga sedikit informasi, kata liga super berhak di sematkan ke liga Indonesia setelah memenuhi persyaratan yang disyaratkan oleh federasi sepak bola Asia mulai dari infrastruktur klub anggotanya dan yang paling utama Finansial tentunya. jadi kata super dalam sebuah liga bukan penambahan kata semau perut federasi sebuah negara tapi setelah melalui screening yang ketat. Perlu di catat setelah liga Indonesia menjadi Liga super, liga kita ini pernah menjadi liga no 7 di Asia, liga terbaik di Asia tenggara, dan liga yang rataan penontonnya terbanyak di Asia namun itu dulu sebelum konflik terjadi.

    Merujuk dari Judul yang saya taruh di atas, kalau teman-teman memperhatikan liga kita ini, akan ada fenomena, kebiasaan, lelucon yang mungkin hanya di Indonesia itu ada.

    1. Liga Indonesia termasuk liga di Asia dengan rataan penonton terbanyak. Sering kita melihat stadion bisa penuh sesak tanpa ada space satupun namun pihak panpel pertandingan menyatakan tiket tidak sold out malah masih ada setengahnya..LOL...(terus kenapa bisa stadion penuh)
    2. Hanya di Liga indonesia wasit pertandingan bisa di ganti dengan wasit lain atas perintah kapolda. ini terjadi ketika final Piala Indonesia antara Arema vs sriwijaya di solo beberapa tahun yang lalu. ini apa hubungannya polisi dengan aturan tekhnis sebuah permainan...brrr (kalau tidak paham bola begini ini jadinya..sana jaga keamanan saja pak)
    3. Hanya di Liga Indonesia seorang pemain tidak mendapatkan kartu apapun dari wasit ketika wasit itu di dorong sampai jatuh. peraturan internasional secara tegas mengatur tidak boleh memaki wasit apalagi mendorong. setiap pemain yang melakukan itu akan mendapatkan sanksi larangan bermain.
    4. Hanya di Indonesia sistem kontrak pemainnya tidak punya bentuk dan pakem, terserah klub tersebut maunya apa. jadi sangat jarang atau malah tidak pernah kita mendengar transfer jual beli pemain antar klub yang ada adalah negosiasi klub langsung dengan pemainnya. jadi tidak akan ada seorang seperti Arsene wenger di liga indonesia yang membuat pemain hebat lalu menjualnya mahal dan klubnya mendapat untung dari hasil penjualan pemain tersebut.
    5. Hanya di Indonesia asisten wasit tidak tahu yang mana on side mana off side.  jika jumlah off side satu klub dalam sebuah pertandingan ada 10 yakinlah yang 5 itu adalah on side.
    6. Hanya di Indonesia ada klub degradasi yang masih bertahan di kasta tertinggi (liga) karena adanya aturan klub degradasi terbaik, yaitu bontang FC pada tahun 2010..(inilah lelucon yang paling tidak lucu yang pernah saya lihat dan dengar, degradasi ya degradasi saja tidak perlu ada kata-kata terbaik di belakangnya dan harus turun kasta, ini malah bertahan)
    7. Hal absurd lainnya yang hanya ada di Indonesia ketika pemain bisa di ganti atas permintaan manajer bukan atas keinginan pelatih atau kepentingan strategi. (terus gunanya pelatih untuk apa ? )
    8.  Hanya di Indonesia suporter yang ada di dalam stadion memakai helm saat menonton. (awas kena tilang karena nda pake helm...menonton bola kok pake helm!!!)
    9. Hanya di Indonesia ada kata-kata sayang dan cinta terhadap televisi yang memegang hak siar pertandingan di dalam stadion di setiap pertandingan.
    10. Hanya di Indonesia komentar dari komentator pertandingan bisa merubah mood kita dari senang menjadi emosian..heheh (perhatikan komentator ISL ANtv lebay cetar membahana)
    mungkin yang diatas hanya sebagian dari hal-hal absurd yang ada di persepak bolaan kita dewasa ini namun saya tetap yakin akan ada perubahan yang lebih baik kedepannya menuju sebuah kejayaan sepak bola Indonesia. Semoga.

    Minggu, 05 Mei 2013

    "Sampah" Tukul di Televisi

    By: Unknown On: Minggu, Mei 05, 2013
  • Share The Gag
  • Me-repost lagi tulisan saya waktu tahun 2008 yang lalu, ketika itu acara Tukul masih bernama Empat Mata namun kini sudah berubah menjadi Bukan Emapat  Mata setelah di tegur dan di larang tayang oleh KPI (komisi penyiaran indonesia) karena konten acaranya yang dinilai...ah su..dah..lah..


    Mendengar nama Tukul Arwana, mungkin seantero nusantara tidak ada yang tidak mengenal sosok ini, berkat acara yang dipandunya “Empat Mata” yang katanya hampir ditonton oleh setengah rakyat Indonesia. Pada setiap jam pemutaran acara, tukul seakan menjelma menjadi sang super star di tengah hiruk-pikuk jet set negeri ini yang hanya selalu menghadirkan isu perceraian, perselingkuhan, dan kisah cinta putus-nyambung. Tapi disini saya menulis tulisan ini bukan untuk membahas hal itu tapi bagaimana saya melihat Tukul dengan sangat cerdas mengolah lelucon–lelucon sampah yang di buang di suatu tong yang bernama televisi.


    Mungkin saat kita melihat tontonan tersebut (Empat Mata) kita hanya menganggap sebagai tontonan biasa yang menghadirkan beberapa bintang tamu dengan tema tertentu dan sedikit lelucon tapi tidak menjadi biasa ketika lelucon –lelucon yang ditampilkan terkesan kasar malah bisa dikatakan kurang ajar dan sangat tidak mendidik. Kata-kata yang mengandung ejekan, terkesan sarkastik yang selalu menyerang bentuk fisik seseorang seakan mengalir begitu saja, belum lagi joke-joke yang menyerempet ke hal-hal yang terkesan porno. Mungkin sudah sangat lumrah jika umpatan, cacian, dan makian terjadi di negeri kita ini mulai dari kalangan bawah sampai yang dikatakan kaum elite sekalipun sehingga semua orang yang menonton acara tersebut menganggap sebagai hal yang biasa saja.



    Dalam perkembangannya, dunia pertelevisian khususnya acara-acara talk show yang ada di Indonesia tidak banyak mengalami perkembangan yang cukup berarti, di mana sebagian besar insan pertelevisian Indonesia masih sebagai plagiator bukan sebagai pencipta ide, sebagai contoh Dorce Show yang mengadopsi habis-habisan acara talk show tersukses di Amerika Oprah Winfrey Show ataupun acara Tali Kasih yang menggunakan sisi keprihatinan untuk menggaet simpati penonton, dari sisi yang lain Empat Mata hadir dihadapan Anda. Acara yang dipandu oleh Tukul tersebut menggaet simpati penonton dengan menjual lelucon yang sudah basi dan tak berkelas untuk ditonton di mana setiap episodenya selalu saja dengan setting yang sama. Ada yang berperan sebagai yang “teraniyaya” dan juga sebagai sang “penganiaya”, tidak jarang acara tersebut menyimpang dari tema karena pelakon-pelakonnya, asyik saling mengumpat dan mencaci. Penulis berkesimpulan bahwa acara-acara (talk show) di Indonesia yang bertemakan seperti ini akan laku dibanding dengan acara-acara yang terkesan kaku, formal dan sopan.



    Untuk itu kita sedapatnya mampu memilih dan memilah tontonan yang selayaknya kita tonton, saya menulis ini bukan bermaksud karena saya anti-tukul atau memprovokasi anda atau siapapun untuk tidak menonton acara tersebut namun mungkin dapat menjadi pertimbangan apakah acara itu layak ditonton apa tidak, karena masih banyak alternatif tontonan lain yang jauh lebih berkualitas dan memberikan banyak manfaat.

    Ibu Kota Negara

    By: Unknown On: Minggu, Mei 05, 2013
  • Share The Gag
  • Hari ini ketika saya sedang asyik memperhatikan TimeLine di Twitter, saya tertarik pada salah satu Tweet (@SupirPete2) yang menanyakan bagaimana pendapat anda kalau Makassar menjadi ibu kota negara, serentak para followers akun tersebut kebanyakan menjawab Tidak!!! dengan jawaban yang streotype bahwa kalau Makassar jadi Ibu Kota, Makassar akan macet, banjir, dan semrawut. Tentu saja jawaban tersebut merujuk pada kondisi jakarta saat ini sebagai ibu kota negara, tidak ada yang salah namun saya membacanya bahwa rata-rata pemikiran orang-orang tentang Ibu kota Negara tidak jauh-jauh pada hal-hal tersebut. Ada juga melalui perspektif orang jakarta itu sendiri, ketika itu saya menonton infotainment seorang artis diberikan pertanyaaan tersebut dengan lugasnya menjawab saya tidak setuju karena jakarta akan sepi, tempat-tempat nongkrong tidak ada lagi..LOL. 


    Perlu kita ketahui mungkin di Indonesia belum jelas pembagian Zona nya, yang baru jelas adalah pembagian zona waktu nya mulai barat, tengah, dan timur. kita belum memikirkan indonesia barat untuk apa, tengah mau di jadikan apa, atau timur mau menjadi pusat apa, yang terjadi sekarang representasi Indonesia ada di wilayah barat sedangkan Timur seakan-akan hanya menjadi "penyangga". Semua kemajuan ada di barat, jadi tidak heran jakarta sebagai Ibu kota negara menjadi sangat sumpek,semrawut, dan jauh dari kesan bersahaja sebagai sebuah kota. Ini disebabkan karena tanggungan Jakarta sedemikian besar. Jakarta menjadi pusat pemerintahan negara, Jakarta jadi pusat ekonomi Indonesia, Jakarta jadi pusat kebudayaan, Jakarta jadi pusat pendidikan. Bisa di bayangkan bagaimana beratnya Jakarta. Wacana pemindahan Ibu kota negara untuk sekarang ini memang sudah sangat Urgent, Jakarta sekarang berpenduduk sekitar 10 juta orang sedangkan banyak pulau di Indonesia yang besarnya 50 kali Jakarta cuma memiliki penduduk tidak lebih dari setengah populasi Jakarta.  Jadi bisa kita bayangkan bagaimana "Nerakanya" Jakarta. Untuk mengatasi itu, salah satu caranya adalah memindahkan beban jakarta sebagai Ibu kota negara namun sebagai pusat bisnis, ekonomi, dan budaya tetap di Jakarta. Jakarta di persiapkan sebagai kota yang siap bersaing dengan kota-kota lainnya di dunia seperti Singapura, Sydney, bangkok, dan Dubai dengan status bukan ibu kota negara lagi. Untuk urusan admistratif kenegaraan cuma ada di Ibu kota negara jika seumpama jadi di Pindahkan. So Ibu kota negara hanya berisi istana negara, kementrian, pusat pertahanan, dan tempat presiden tinggal beserta jajaran pemerintahannya beserta kedutaan besar negara-negara sahabat. kalau ingin mencari "hiburan" ya ke kota lain. 

    Sebagai contoh Australia menempatkan ibu kotanya di Canberra di mana pusat pemerintahan berada namun jika ingin mencari hiburan, berinvestasi, berbisnis tempatnya adalah Sydney. Yang paling gress adalah tetangga kita Myanmar yang ternyata sukses memindahkan Ibu kota nya ke Nypydaw menggantika Yangon yang dirasa sudah mulai sesak. Pemerintah Myanmar betul-betul membangun kota baru dengan Jalanan- jalanan yang lebar. Satu-satunya bangunan besar di sana adalah Istana kepresidenan. Atau kita bisa meniru Amerika yang sangat jelas dan berhasil dalam membagi fungsi-fungsi masing-masing kota. Washington DC sebagai ibu kota negara & pusat pemerintahan, New York sebagai daerah metropolitan dan pusat bisnis, Boston sebagai pusat pendidikan (Harvard), dan Nevada sebagai pusat Hiburan (Las Vegas).

    So kalau Makassar di angkat sebagai calon ibu kota Negara sah-sah saja tapi sudah sangat riskan karena Makassar terlanjur menjadi daerah metropolitan, landskap-nya sudah mentok. Palangkaraya yang diusulkan Soekarno dulu sangat pas karena bentang alam Palangkaraya masih memberikan ruang untuk di kembangkan menjadi Ibu Kota negara, jumlah penduduk yang sedikit,tanah yang belum terpakai masih sangat luas. jadi menjawab artis di Infotainment tadi yang berkata ibu kota pindah maka jakarta akan sepi tidak akan terjadi karena Jakarta tetap dipersiapkan oleh Indonesia untuk bersaing dengan kota-kota lainnya di dunia. jadiyang pindah hanya pusat pemerintahan negara bukan Mall nya DODOL.....